Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan kebijakan bank sentral di negara-negara maju, termasuk AS yang mulai menurunkan suku bunga acuan, tak serta merta membuat kondisi ekonomi membaik. Menurut dia, kondisi ekonomi saat ini tetap berpotensi menimbulkan volatilitas di pasar keuangan dan arus modal global.
Pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksi tetap lemah, dengan kisaran masing-masing 3,2% dan 3,3% pada 2024 dan 2025. Di sisi lain, harga komoditas cenderung volatil di tengah lesunya pertumbuhan ekonomi global. Sementara itu, Bank sentral AS, Federal Reserve, memutuskan untuk menurunkan suku bunga kebijakan atau _fed fund rate_ (FFR) 50 basis poin (bps), pada Rabu (18/9/2024) waktu setempat.
Penurunan ini menjadi kabar gembira bagi pelaku ekonomi, karena menjadi yang pertama kalinya sejak 4 tahun terakhir.
<Red/Novel Heryanto>
